Minggu, Februari 28, 2010

internet tools webmaster

internet tools webmaster

Detik2

DETIK-DETIK SEMESTER AKHIR

7 semester sudah ku lewati masa2 kuliah,,akhirnya gak terasa dah memasuki semester 8 , ini juga artinya 1 semester lagi merasakan kebersamaan ma teman di kampuz, ktemu adk tingkat yang selalu kasih semngat, dosen2 di kampuz yang gak bosannya kasih tugas, dan semua yang telah ikut berperan di dalmnya...kadang aku berpikir konstribusi apa yang telah aku berikan to kampuz ini??????????/
ku juga gak tau, yang pasti yang memberi penilaian itu semua adalah orang lain. karena beribu-ribu alsan to kita membela diri kita sendiri...
pertama kali masuk kuliah, sempat juga berpikir begitu lamnya menempuh kuliah di kelas end blajr selama 4 tahun tapi setelah di jalanin dalam hitungan detik menit, hari minggu, bulan bahkan tahun semua bisa di lewati dengan baik.....
walaupun terkadang merasa bosan menerima mata kuliah tapi selalu ingat pengorbanan yang telah orang tua berikan ke kita, merka telah mengorbankan materi dan kita di kasih amanah to menjalnkan amanh itu....
berkat support dari teman, kluarga bahkan dari semua pihak alhmdulillah semuanya bisa berjalan sampai detik ini...
karena kita merasa bosan keadaanlah yang membuat semua itu ada, klo kita bisa menyikapinya tak ada kata bosan to menjalaninya. karena banyak jalan to kita jadi lebih baik dan aku baru mersakan di samping belajar di kampuz kita juga di tuntut untuk lebih aktif dalah semua bidang yang kita yakini kit berpotensi dalam bidang itu..
di bangku kuliah inilah kita menemukan arti dari kata dewasa, kehidupan akan selalu berjalan tergantung dengan diri kita mau di bawa kemana diri kita....
kampuz adalah hanya sebagai wadah tempat kita belajar....ketika kita memasuki dunia kmpuz ketika itu juga kita harus membentuk diri kita menjadi seperti apa yang kita inginkan....
ehm.....
terlambat yach rsanya klo kita menyadarinya baru skarang,,,tapi jgan katakan terlambat karena stiap kesempatan itu akan selalu ada klo kita bisa melihat kesmpatan itu ada,,jdi jangn pernah sia2kan waktu yang tersisa ini,,,
semoga dalam semster akhir ini aku bisa jadi apa yang aku inginkan end bisa berguna to orang lain.....
Ya Rabb mudahkanlah stiap langkah kakiku berjlan to menuju rdiho_MU

Askep Asma

ASKEP ASMA BRONKIAL PADA LANSIA

A. ANATOMI SISTEM RESPIRASI
Fungsi system pernafasan adalah untuk mengambil oksigen dari atmosfer ke dalam sel-sel tubuh dan untuk mentransfor karbon dioksida yang dihasilkan sel-sel tubuh kembali ke atmosfer. Organ –organ respiratorik juga berfungsi dalam produksi wicara dan berperan dalam keseimbangan asam basa, pertahanan tubuh melawan benda asing, dan pengaturan hormonal tekanan darah.


Respirasi melibatkan proses berikut
:
  1. Ventilasi pulmonal adalah jalan masuk dan keluar udara dari saluran pernafasan dan paru-paru
  2. Respirasi eksternal adalah difusi oksigen dan karbon dioksida antara udara dalam paru dan kapilar pulmonal.
  3. Respirasi internal adalah difusi oksigen dan karbon dioksida antara sel darah dan sel-sel jaringan.Respirasi selular adalah penggunaan oksigen oleh sel-sel tubuh untuk produksi energi dan pelepasan produk oksidasi (karbon dioksida dan air) oleh sel-sel tubuh.
  4. Saluran pernafasan terdiri dari cabang-cabang saluran dari lingkungan sampai ke paru-paru.
  5. Anatomi fungsional saluran pernafasan

A. Rongga hidung dan nasal

1. Hidung eksternal berbentuk piramid disertai dengan suatu akar dan dasar. Bagian ini tersusun kerangka kerja tulang., kartilago hialin, dan jaringan fibroareoal.

2.Septum nasal membagi hidung menjadi sisi kiri dan sisi kanan rongga nasal. Bagian anterior septum adalah kartilago.

3. Naris eksternal dibatasi oleh kartilago nasal

4. Tulang hidung

1. Tulang nasal membentuk jembatan dan bagian superior kedua sisi hidung

2. Vomer dan lempeng perpendikular tulang etmoid membentuk bagian posterior septum nasal.

3. Lantai rongga nasal adalah palatum keras yang terbentuk dari tulang maksila dan palatinum.

4. Langit-langit rongga nasal pada sisi medial terbentuk dari lempeng kribriform tulang etmoid, pada sisi anterior dari tulang frontal dan nasal, dan pada sisi posterior dari tulang sfenoid.

5. Konka (turbinatum) nasalis superior, tengah dan inferior menonjol pada sisi medial dinding lateral rongga nasal. Setiap konka dilapisi menbran mukosa (epitel kolumnar bertingkat dan bersilia) yang berisi kelenjar pembuat mukus dan banyak mengandung pembuluh darah.

6. Meatus superior, medial dan inferior, merupakan jalan udara rongga nasal yang terletak di bawah konka.

5. Empat pasang sinus paranasal adalah kantong tertutup pada bagian frontal etmoid, maksilar dan sfenoid. Sinus ini dilapisi membran mukosa.

1. Sinus berfungsi untuk meringankan tulang kranial, memberi area permukaan tambahan pada saluran nasal untuk menghangatkan dan melembabkan udara yang masuk, memproduksi mukus, dan memberi efek resonansi dalam produksi wicara.

2. Sinus paranasal mengalirkan cairannya ke meatus rongga nasal melalui duktus kecil yang terletak di area tubuh yang lebih tinggi dari area lantai sinus. Pada posisi tegak, aliran mukus kedalam rongga nasal mungkin terhambat, terutama pada kasus infeksi sinus.

3. Duktus nasolakrimal dari kleenjar airmata membuka ke arah meatus inferior.

6. Membran mukosa nasal

1. Struktur

Kulit pada bagian eksternal permukaan hidung yang mengandung folikel rambut, keringat dan kelenjar sebasea, merentang sampai vestibula yang terletak di dalam nostril.

Di bagian rongga nasal yang lebih dalam, epitelium respiratorik membentuk mukosa yang melapisi ruang nasal selebihnya. Lapisan ini terdiri dari epitelium bersilia dengan sel goblet yang terletak pada lapisan jaringan ikat tervaskularisasi dan terus memanjang untuk melapisi saluran pernapasan sampai ke bronkus.

2. Fungsi

  • Penyaringan partikel kecil. Silia pada epitelium respiratorik melambai ke depan dan belakang dalam suatu lapisan mukus. Gerakan dan mukus membentuk suatu perangkap untuk partikel yang kemudian akan disapu ke atas untuk ditelan, dibatukkan, atau dibersinkan keluar.
  • Penghangatan dan pelembaban udara yang masuk. Udara kering akan dilembabkan melalui ebaporasi sekresi serosa dan mukus serta dihangatkan oleh radiasi panas dari pembuluh darah yang terletak di bawahnya.
  • Resepsi odor. Epitelium olfaktori yang terletak di bagian atas rongga hidung di bawah lempeng kribriform, mengandung sel-sel olfaktori yang mengalami spesialisasi untuk indera penciuman.Faring


Faring
Faring adalah tabung muskular berukuran 12,5 cm yang merentang dari bagian dasar tulang tengkorak sampai esofagus. Faring terbagi menjadi nasofaring, orofaring, dan laringofaring

Nasofaring, adalah bagian posterior rongga nasal yang membuka ke arah rongga nasal melalui dua naris internal (koana).
Dua tuba Eustabhius (auditorik) menghubungkan nasofaring dengan telinga tengah. Tuba ini berfungsi untuk menyetarakan tekanan udara pada kedua sisi gendang telinga.
Amandel (adenoid) faring adalah penumpukan jaringan limfatik yang terletak di dekat naris internal. Pembesaran adenoid dapat menghambat aliran udara.

.Orofaring, dipisahkan dari nasofaring oleh palatum lunak muskular, suatu perpanjangan palatum keras tulang. Uvula (anggur kecil)adalah prosesus kerucut (conical) kecil yang menjulur ke bawah dari bagian tengah tepi bawah palatum lunak.

· Amandel palatinum terletak pada kedua sisi orofaring posterior.

· Laringofaring mengelilingi mulut esofagus dan laring, yang merupakan gerbang untuk sistem respiratorik selanjutnya.

3. Laring (kotak suara) menghubungkan faring dengan trakea. Laring adalah tabung pendek berbentuk seperti kotak triangular dan ditopang oleh sembilan kartilago, tiga berpasangan dan tiga tidak berpasangan.

a. Kartilago tidak berpasangan.

· Kartilago tiroid (jakun), terletak di bagian proksimal kelenjar tiroid. Biasanaya berukuran lebih besar dan lebih menonjol pada laki-laki akibat hormon yang disekresikan pada saat pubertas.

· Kartilago krikoid, adalah cincin anterior yang lebih kecil dan lebih tebal, terletak di bawah kartilago tiroid.

· Epiglotis, adalah katub kartilago elastis yang melekat pada tepian anterior kartilago tiroid. Saat menelan, epiglotis secara otomatis menutupi mulut laring untuk mencegah masuknya makanan dan cairan.

b. Kartilago berpasangan.

· Aritenoid. Terletak diatas dan di kedua sisi kartilago krikoid. Kartilago ini melekat pada pita suara sejati, yaitu lipatan berpasangan dari epitelius skuamosa bertingkat.

· Kartilago Kornikulata, melekat pada bagian ujung kartilago aritenoid.

· Kartilago Kuneiform, berupa batang-batang kecil yang membantu menopang jaringan lunak.

c. Dua pasang lipatan lateral membagi ronga laring.

· Pasangan bagian atas adalah lipatan ventrikular (pita suara semu) yang tidak berfungsi saat produksi suara.

· Pasangan bagian bawah adalah pita suara sejati yang melekat pada kartilago aritenoid serta kartilago krikoid. Embuka di antara kedua pita ini adalah glotis.

1. Saat bernapas, pita suara terabduksi (tertarik membuka) oleh otot laring dan glotis berbentuk triangular.

2. Saat menelan, pita suara teraduksi (tertarik menutup), dan glotis membentuk celah sempit.

3. Dengan demikian, kontraksi otot rangka mengatur ukuran pembukaan glotis dan derajat ketegangan pita suara yang diperlukan untuk produksi suara.

4. Trakea (pipa udara) adalah tuba dengan panjang 10 cm sampai 12 cm dan diameter 2,5 cm serta terletak di atas permukaan anterior esofagus. Tuba ini merentang dari laring pada area vertebra serviks keenam sampai area vertebra toraks kelima tempatnya membelah menjadi dua bronkus utama.

a. Trakea, dapat tetap terbuka karena adanya 16 sampai 20 cincin kartilago terbentuk – c. Ujung posterior mulut cincin dihubungkan oleh jaringan ikat dan otot sehingga memungkinkan ekspansi esofagus.

b.Trake dilapisi epitelim respiratorik (kolumnar bertingkat dan bersilia) yang mengandung banyak sel goblet.

5. Percabangan bronkus.

· Bronkus primer (utama) kanan berukuran lebih pendek, lebih tebal, dan lebih lurus dibandingkan bronkus primer kiri karena arkus aorata membelokkan trakea bawah ke kanan. Objek asing yang masuk ke dalam trakea kemungkinan ditempatkan dalam bronkus kanan.

· Bronki sekunder dan tertier, dengan diameter yang semakin kecil. Saat tuba semakin menyempit, batang atau lempeng kartilago mengganti cincin kartilago.

· Bronki diseut ekstrapulmonar sampai memasuki paru-paru, setelah itu disebut intrapulminar.

· Struktur mendasar dari kedua paru-paru adalah percabangan bronkial yang selanjutnya: bronki, bronkiolus, bronkolus terminal, bronkiolus respiratori, duktus alveolar, dan alveoli. Tidak ada kartilago dalam respiratorik, duktus alveolar, dan alveoli. Tidak ada kartilago dalam bronkiolus: silia tetap ada sampai bronkiolus respiratorik terkecil.

6. Paru-Paru.

1. Paru-paru adalah organ berbentuk piramid seperti spons dan berisi udara, terletak dalam rongga toraks.

· Paru kanan memiliki tiga lobus : paru kiri memiliki dua lobus.

· Setiap paru memiliki sebuah apeks yang mencapai bagian atas iga pertama sebuah permukaan diafragmatik (bagian dasar) terletak di atas diafragma, sebuah permukaan mediastinal (medial) yang terpisah dari paru lain oleh mediastinuam, dan permukaan costal terletak di atas kerangka iga.

· Permukaan mediastinal memiliki hilus (akar), tempat masuk dan keluarnya pembuluh darah bronki, pulmonar, dan bronkial dari paru.

2. Pleura, adalah membran penutup yang membungkus setiap paru.

· Pleura parietal, melapisi rongga toraks (kerangka iga, diafragma, mediastinum).

· Pleura viseral, melapisi paru dan bersambung dengan pleura parietal di bagian bawah paru.

· Rongga Pleura (ruang intra pleura) adalah ruang potensial antara pleura parietal dan viseral yang mengandung lapisan tipis, cairan pelumas. Cairan ini di sekresikan oleh sel-sel pleura sehingga paru-paru dapat mengembang tanpa melakukan friksi. Tekanan cairan (tekanan intra pleura) agak negatif di bandingkan tekanan sfer atmosfer.

· Kanan udara atmResesus Pleura, adalah area rongga pleura yang tidak berisi jaringan paru. Area ini muncul saat pleura varietal bersilang dari satu permukaan ke permukaan lain. Saat bernapas paru-paru bergerak keluar masuk area ini.

1. Resesus pleura kostomediastinal, terletak di tepi anterior kedua sisi pleura, tempat pleura parietal berbelok dari kerangka iga ke permukaan lateral meidastinum

2. Resesus pleura kostodiafragmatik, terletak di tepi posterior kedua sisi pleura diantara diafragma dan permukaan costal internal toraks.

Mekanisme Pernapasan (Ventilasi Pulmonar).

A. Prinsip Dasar.

1. Toraks adalah rongga tertutup kedap udara di sekeliling paru-paru yang terbuka ke atosfer hanya melalui jalur siste pernapasan.

2. Pernapasan adalah proses inspirasi (inhalasi) udara ke dalam paru-paru dan ekspirasi (ekshalasi) udara ke dalam paru-paru ke lingkungan luar tubuh.

3. Sebelum inspirasi dimulai, tekanan udara atmosfer (sekitar 760 mmHg) sama dengan tekanan udara dalam alveoli yang disebut sebagai tekanan intra-alveolar (intra pulmonar).

4. Tekanan intrapleura dalam rongga pleura (ruang antar pleura) adalah tekanan sub atmosfer, atau kurang dari tekanan intra-alveolar.

5. Peningkatan atau penurunan volume rongga toraks mengubah tekanan intra pleura dan intra alveolar yang secara mekanik meyebakan pengembangan atau pengempisan paru-paru.

6. Otot-otot inspirasi memperbesar rongga toraks dan meningkatakan volumenya. Otot-otot ekspirasi menurunkan volume rongga toraks .

a. Inspirasi, membutuhkan kontraksi otot dan energi.

· Diafragma, yaitu otot berbentuk kubah yang jika sedang rilaks akan memipih, saat berkontraksi dan memperbesar rongga toraks ke arah inferior.

· Otot intercosta eksternal, mengangkat iga keatas dan kedepan saat berkontraksi sehingga memperbesar ronngga torak ke arah inferior dan superior.

· Dalam pernapasan aktif atau pernapasan dalam, otot-otot sternokleidomastoid, pektoralis mayor, serratus aterior, dan otot skalena juga akan memperbesar rongga toraks.

b. Ekspirasi, pada pernapasan yang tenang di pengaruhi oleh relaksasi otot dan disebut proses pasif, dan pada ekspirasi dalam, otot interkostal internal menarik kerangka iga kebawah dan otot abdomen berkontraksi sehingga mendorong isi abdomen menekan diafragma.

B. Faktor-faktor dalam Inflasi dan Deflasi paru-paru.

1. Tekanan Intrapleura negatif dalam rongga pleura menahan paru-paru tetap berkontak dengan dinding torak karena tekanan ini menghasilkan penhisapan (suction) antara pleura parietal yang melekat pada dinding toraks, dan pleura viseral yang melapisi permukaan paru-paru.

2. Jaringan elastik dalam paru-paru bertanggung jawab terhadap kecenderungan nya untuk menjauh dari dinding toraks dan mengempis. Organ ini tidak mengempis dalam tubuh karena penghisapan yang menahan paru-paru tetap pada dinding toraks lebih besar di bandingkan daya elastis dalam paru-paru.

3. Selama inspirasi dan ekspansi toraks, tekanan intrapleura negatif semakin berkurang (semakin negatif) meningkatnya penghisapan, bersamaan dengan kohesi cairan pleura, menarik permukaan paru-paru keluar kearah dinding toraks dan membantu ekspansi paru-paru.

4. Saat paru-paru berekspansi, tekanan udara di dalam paru-paru (tekanan intra alveolar) menurun drastis sampai di bawah tekanan atmosfer di luar tubuh. Udara luar di hisap melalui saluran pernapasan menuju paru-paru sampai tekanan intra alveolar kembali sama dengan tekanan atmosfer.

5. Saat otot-otot inspirasi relaks, ukuran rongga toraks berkurang, elastisitas paru-paru menariknya kearah dalam, tekanan intra alfeolar meningkat sampai diatas tekanan atmosfer dan udara di keluarkan dari paru-paru

6. Surfaktan, adalah sejenis lipoprotein yang disekresikan oleh sel-sel epitel dalam alveoli paru matur. Lapisan surfaktan terletak antara lapisan lembab dan udara dalam alveolus. Surfaktan mengurangi tegangan permukaan cairan yang menurunkan kecenderungan pengempisan alveoli dan memungkinkan alveoli untuk berinflasi dalam tekanan yang lebih rendah.

a. Surfaktan lebih banyak mengurangi tegangan permukaan dalam alveoli kecil di bandingkan dengan alveoli besar.

b. Karena surfaktan diproduksi sampai masa akhir perkembangan janin, bayi prematur mungkin lahir dengan insufisien surfaktan, pengempisan alveoli, dan kesulitan bernapas.

c. Kondisi ini disebut sindrom distres respiratorik (penyakit membran hialin), diatasi dengan penggunaan mesin ventilasi mekanik sampai bayi tersebut cukup umur untuk memproduksi cukup surfaktan.

7. Kompliance mengacu pada distensi bilitas paru-paru atau kemudahan inflasi nya. Kompliance di definisikan sebagai suatu ukuran peningkatan volume paru yang dihasilkan setiap unit perubahan dalam tekanan intra alveolar. Pengukuran ini di nyatakan dalam liter (volume udara) percentimeter air (tekanan ).

a. Penurunan komplians paru membutuhkan pembentukan perbedaan tekanan yang lebih besar daripada tekanan normal saat inspirasi untuk menginflasi paru-paru. Setiap keadaan yang menghambat ekspansi dan kontraksi paru akan menurunkan komplians sehingga dibutuhkan tenaga yang lebih untuk menginflasi paru-paru.

b. Konplians dapat berkurang akibat penyakit pulmonar yang menyebakan perubahan elastisitas paru, kongesti pulmonar atau edemadi paru, gangguan tegangan permukaan alveoli, atau obstruksi jalan udara. Hal ini dapat dipengaruhi oleh deformitas kerangka toraks.

8. Pneumotoraks atau atalektasis. Secara normal, tidak ada udara masuk ke rongga lpleura. Jika udara dibiarkan masuk dalam ruang intrapleura (karena luka tusuk atau tulang iga patah). Kondisi ini disebut pneumotoraks (udara dalam dada). Akibat menghilangnya tekanan negatif dalam rongga intrapleura adalah pengempisan paru-paru disebut atalektasis.

C. Volume dan kapasitas paru, bolume udara dalam paru-paru dan kecepatan pertukaran saat inspirasi dan ekspirasi dapat diukur melalui spirometer. Nilai volume paru memperlihatan suhu tubuh standar dan tekanan ambien serta diukur dalam mililiter udara.

1. Volume.

a. Volume tidal (VT) adalah volume udara yang masuk dan keluar paru-paru selama ventilasi normal biasa. VT pada dewasa muda sehat berkisar 500 ml untuk laki-laki dan 380 ml untuk perempuan.

b. Volume cadangan inspirasi (VCI) adalah volume udara ekstra yang msuk ke paru-paru denganinspirasi maksium di atas inspirasi tidal. CDI berkisar 3.100 ml pada laki-laki dan 1.900 ml pada perempuan.

c. Volume cadangan ekspirasi (VCE) adalah volume ekstra udara yang dapat dengan kuat dikeluarkan pada akhir ekspirasi tidal normal. VCE biasaya berkisar 1.200 ml pada laki-laki dan 800 ml pada perempuan.

d. Volume residual (VR) adalah volume udara sisa dalam paru-paru setelah melakukan ekspirasi kuat. Volume residual penting untuk kelansungan aerasi dalam darah saat jeda parnapasan. Rata-rata volume ini pada laki-laki sekitar 1.200 ml dan pada perempuan 1.000 ml.

2.2 Konsep Lansia

2.2.1 Istilah Lanjut Usia

Berbagai istilah berkembang terkait dengan lanjut usia (lansia) yaitu Gerontology Geriatric dan keperawatan Gerontik. Gerontology berasal dari kata Geros = lanjut usia dan Logos = ilmu. Jadi, Gerontology adalah ilmu yang mempelajari secara khusus mengenai faktor-faktor yang menyangkut lanjut usia (Nugroho, 2000).

Gerontology adalah ilmu yang mempelajari seluruh aspek menua atau usia lanjut dan Gerontology Nursing adalah ilmu yang mempelajari tentang perawatan pada lanjut usia (Nugroho,2000).

Gerontology adalah cabang ilmu yang mempelajari proses menua dan masalah yang mungkin terjadi pada lanjut usia.(Miller, 1990 dalam Nugroho 2000).

2.2.2 Definisi Lanjut Usia

Pengertian lanjut usia adalah masa tua disertai dengan adanya kemunduran-kemunduran kemampuan kerja panca indra, gangguan fungsi alat tubuh, perubahan-perubahan secara psikologis seperti kelemahan, keterlambatan berpikir serta kurangnya efisiensi mental dan perubahan-perubahan pada jaringan tubuh (DepKes RI, 1998).

Lanjut usia atau manusia lanjut (Manula) adalah golongan penduduk yang mendapat perhatian atau pengelompokan tersendiri yaitu populasi berumur 60 tahun atau lebih. (Bustan, 2000)

Menghilangkan secara perlahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti diri dan mempertahankan struktur dan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang di derita (Contantinides, 1994).

Yang dimaksud orang jompo dalam undang-undang ialah setiap orang yang berhubungan dengan lanjut usia, tidak mempunyai atau tidak berdaya mencari nafkah untuk keperluan pokok bagi hidupnya sehari-hari, peraturan pelaksanaan dari undang-undang inilah yang perlu dilengkapkan dan dengan sendirinya rencana pembiayaannya. Undang-undang mengenai penyelenggaraan, pembinaan, pendanaan dan perlindungan golongan usia lanjut harus dibuat oleh pemerintah (Darmojo, 1999).

2.2.3 Klasifikasi Lanjut Usia

Mengenai kapankah orang disebut lanjut usia sulit dijawab dengan memuaskan. Di bawah ini dikemukakan beberapa pendapat mengenai batasan umur (Nugroho, 2000).

Batasan usia lanjut menurut WHO meliputi :

1. Usia pertengahan (middle age) ialah kelompok usia antar 45-59 tahun.

2. Lanjut usia (elderly)ialah kelompok usia antara 60-70 tahun.

3. Lanjut usia tua (old) ialah kelompok usia antara 75-90 tahun.

4. Usia sangat tua (Very old) ialah kelompok usia diatas 90 tahun.

Menurut Prof. Dr. Ny. Sumiati Ahmad Mahmad membagi periodisasi biologik perkembangan manusia sebagai berikut :

0-1 tahun : masa bayi

1-6 tahun : masa pra sekolah

6-10 tahun : masa sekolah

10-20 tahun : masa pubertas

40-65 tahun : masa setengah umur (Prasenium).

65 tahun keatas : masa lanjut usia (Serium)

Menurut Dra. Ny. Jas Masdani (Psikolog UI) mengatakan lanjut usia merupakan kelanjutan dari usia dewasa. Kedewasaan dapat di bagi menjadi empat bagian yaitu :

Fase Iuventus : antara umur 25-40 tahun

Fase Vertilitas : antara umur 40-50 tahun

Fase Praesenium : antara umur 55-65 tahun

Fase Senium : 65 tahun hingga tutup usia

Menurut Prof. Koesoemoto Setyonegoro

Pengelompokkan lanjut usia sebagai berikut :

Usia dewasa muda (elderly adulhood) : usia 18 tahun atau 20-25 tahun

Usia dewasa penuh (middle years) : umur 25-60 tahun atau 65 tahun

Lanjut usia (geriatric age) lebih dari 65 atau 70 tahun terbagi menjadi :

§ Umur 70-75 tahun (young old)

§ Umur 75-80 tahun (old)

§ Umur lebih dari 80 tahun (very old)

Menurut undang-undang No. 4 tahun 1965

Bantuan penghidupan orang jompo atau lanjut usia yang termuat dalam pasal 1 dinyatakan sebagai berikut seorang dapat dinyatakan sebagai seorang jompo atau lanjut usia setelah yang bersangkutan mencapai umur 55 tahun tidak mempunyai atau tidak berdaya mencari nafkah sendiri untuk keperluan hidupnya sehari-hari dan menerima nafkah dari orang lain.

2.2.4 Proses Menua (Ageing Process)

Menua (menjadi tua) adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan‑lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang diderita (Constantinides, 1994 dalam Nugroho, 2000).

Proses menua merupakan proses yang terus‑menerus yang berkelanjutan secara alamiah. Dimulai sejak lahir dan umumnya dialami pada semua makhluk hidup. Proses menua setiap individu pada organ tubuh juga tidak sama cepatnya. Adakalanya orang belum tergolong lanjut usia tetapi terdapat kekurangan-kekurangan yang menyolok. Undang‑Undang No. 9 tahun 1960 tentang Pokok‑Pokok Kesehatan pasal 8 ayat 2, berbunyi : Dalam istilah sakit termasuk cacat, kelemahan, dan lanjut usia. Menua bukan suatu penyakit, melainkan suatu masa atau tahap hidup manusia yaitu bayi, kanak-kanak, dewasa, tua dan lanjut usia.

Menua merupakan proses berulangnya daya tahan tubuh dalam menghadapi rangsangan dari dalam maupun luar tubuh. Walaupun demikian memang harus diakui bahwa memang penyakit sering di jumpai pada kaum lanjut usia. Tidak ada batas yang tegas, usia berapa penampilan seseorang mulai menurun. Pada setiap orang, fungsi fisiologis alat tubuhnya sangat berbeda, baik dalam hal pen­capaian puncak maupun saat menurunnya. Namun umumnya, fungsi fisiologis tubuh mencapai puncaknya pada umur antara 20 dan 30 tahun. Setelah mencapai puncak, fungsi alat tubuh akan berada dalam kondisi tetap utuh beberapa saat, kemudian menurun sedikit demi sedikit sesuai bertambahnya umur.

Teori yang menerangkan ”Proses Menua”, mulai dari teori degeneratif yang didasari oleh habisnya daya cadangan vital, teori terajadinya atrofi, yaitu teori yang mengatakan bahwa proses menua adalah proses evolusi, dan teori imunologik yaitu teori adanya produk sampah, produk dari tubuh sendiri, yang makin bertumpuk. Tetapi seperti diketahui, lanjut usia akan selalu bergandengan dengan perubahan fisiologik maupun psikologik. Penting untuk diketahui bahwa aktivitas fisik dapat menghambat atau memperlambat ke­munduran fungsi alat tubuh yang disebabkan bertambahnya umur.

2.2.5 Teori-Teori Biologik Lanjut Usia

1. Teori genetik dan mutasi

Menua terjadi sebagai akibat dari perubahan biokimia yang diprogramkan oleh molekul-molekul DNA dan setiap sel pada saatnya akan mengalami mutasi. Sebagai contoh yang khas adalah mutasi dari sel-sel kelamin dan terjadi penurunan kemampuan fungsional sel.

2. Teori akumulasi dari produk sisa

Kumpulan dari pigmen dalam tubuh, adanya pigmen Lipofuchine di sel otot jantung dan sel susunan syaraf pusat pada lanjut usia yang mengakibatkan menganggu fungsi sel itu sendiri.

3. Teori dari reaksi kekebalan sendiri (Auto Immune Theory)

Didalam proses metabolisme tubuh, ada jaringan tubuh tertentu yang tidak tahan terhadap suatu zat sehingga jaringan tubuh menjadi lemah dan sakit. Contohnya tambahan kelenjar timus pada usia dewasa berinvolusi lalu terjadinya kelainan atau imun. (Menurut Goldteris & Brocklehurst, dalam Darmojo, 1989)

4. Teori immunologi slow virus (Immunology Slow Virus Theory)

Sistem immun menjadi efektif dengan bertambahnya usia dan masuknya virus ke dalam tubuh dapat menyebabkan kerusakan organ tubuh.

5. Teori stres

Menua terjadi akibat hilangnya sel‑sel yang biasa digunakan tubuh. Regenerasi jaringan tidak dapat mempertahankan kestabilan lingkungan internal, kelebihan usaha dan stres menyebabkan sel‑sel tubuh lelah terpakai.

6. Teori radikal bebas

Radikal bebas dapat terbentuk di alam bebas, tidak stabilnya radikal bebas (kelompok atom) mengakibatkan oksidasi oksigen bahan‑bahan organik seperti karbohidrat dan protein. Radikal ini menyebabkan sel‑sel tidak dapat regenerasi.

7. Teori rantai silang

Sel‑sel yang tua atau usang reaksi kimianya menyebabkan ikatan yang kuat, khususnya jaringan kolagen. Ikatan ini menyebabkan kurangnya elastis, kekacauan, dan hilangnya fungsi.

8. Teori program

Kemampuan organisme untuk menetapkan jumlah sel yang membelah setelah sel-sel tersebut mati.

2.2.6 Teori Kejiwaan Sosial

Teori aktivitas (Activity Theory)

Kegiatan secara langsung mengalami penurunan pada lanjut usia, teori ini menyatakan bahwa pada lanjut usia yang sukses adalah mereka yang aktif dan ikut banyak dalam kegiatan sosial, Ukuran optimum pola hidup dilanjutkan pada cara hidup dari lanjut usia. Mempertahankan hubungan antara sistem sosial dan individu agar tetap stabil dari usia pertengahan ke lanjut usia.

Kepribadian berlanjut (Continuity Theory)

Teori ini merupakan gabungan dari teori di atas. Pada teori ini menyatakan bahwa perubahan yang tejadi pada seseorang yang lanjut usia sangat dipengaruhi oleh tipe personality yang dimilikinya.

Teori pembebasan (Disengagement Theory)

Teori ini menyatakan bahwa dengan bertambahnya usia, seseorang berangsur-angsur mulai melepaskan diri dari kehidupan sosialnya atau menarik diri dari pergaulan sekitarnya, ini mengakibatkan interaksi sosial lanjut usia menurun baik secara kualitas maupun kuantitas sehingga sering terjadi kehilangan ganda yakni kehilangan peran (Loss of role), hambatan kontak sosial (Restraction of contacts and relation ships) dan berkurangnya komitmen (Reduced commitment to social mores and values).

2.2.7 Perubahan Pada Lanjut Usia

Penurunan kondisi fisik

Setelah orang memasuki masa lanjut usia umumnya mulai dihinggapi adanya kondisi fisik yang bersifat patologis berganda (multiple pathology), misalnya tenaga berkurang, energi menurun, kulit makin keriput, gigi makin rontok, tulang makin rapuh, dan lain-lain. Secara umum kondisi fisik seseorang yang sudah memasuki masa lansia mengalami penurunan secara berlipat ganda. Hal ini semua dapat menimbulkan gangguan atau kelainan fungsi fisik, psikologik maupun sosial, yang selanjutnya dapat menyebabkan suatu keadaan ketergantungan kepada orang lain. Dalam kehidupan lanjut usia agar dapat tetap menjaga kondisi fisik yang sehat, maka perlu menyelaraskan kebutuhan‑kebutuhan fisik dengan kondisi psikologik maupun sosial, sehingga mau tidak mau harus ada usaha untuk mengurangi kegiatan yang bersifat memporsir fisiknya. Seorang lanjut usia harus mampu mengatur cara hidupnya dengan baik misalnya makan, tidur, istirahat dan bekerja secara seimbang.

Penurunan fungsi dan potensi seksual

Penurunan fungsi dan potensi seksual pada lanjut usia sering kali berhubungan dengan berbagai gangguan fisik seperti :

1. Gangguan jantung.

2. Gangguan metabolisme, misal diabetes millitus.

3. Vaginitis.

4. Baru selesai operasi : misalnya prostatektomi.

5. Kekurangan gizi, karena pencemaan kurang sempuma atau nafsu makan sangat kurang.

6. Penggunaan obat‑obat. tertentu, seperti antihipertensi, gotongan steroid, tranquilizer.

7. Faktor psikologis yang menyertai lanjut usia antara lain :

- Rasa tabu atau malu bila mempertahankan kehidupan seksual pada lanjut usia.

- Sikap keluarga dan masyarakat yang kurang menunjang serta diperkuat oleh tradisi dan budaya.

- Kelelahan atau kebosanan karena kurang variasi dalam kehidupannya.

- Pasangan hidup telah meninggal.

- Disfungsi seksual karena perubahan hormonal atau masalah kesehatan jiwa lainnya misalnya cemas, depresi, pikun.

Perubahan aspek psikososial

Pada umumnya setelah orang memasuki lanjut usia maka ia mengalami penurunan fungsi kognitif dan psikomotor. Fungsi kognitif meliputi proses belajar, persepsi, pemahaman, pengertian, perhatian dan lain‑lain sehingga menyebabkan reaksi dan perilaku lanjut usia menjadi makin lambat. Sementara fungsi psikomotorik (konatif) meliputi hal‑hal yang berhubungan dengan dorongan kehendak seperti gerakan, tindakan, koordinasi, yang berakibat bahwa lanjut usia menjadi kurang cekatan.

Perubahan yang berkaitan dengan pekerjaan

Pada umumnya perubahan ini diawali ketika masa pensiun. Meskipun tujuan ideal pensiun adalah agar para lanjut usia dapat menikmati hari tua atau jaminan hari tua, namun dalam kenyataannya sering diartikan sebaliknya, karena pensiun sering diartikan sebagai kehilangan penghasilan, kedudukan, jabatan, peran, kegiatan, status dan harga diri.

Perubahan dalam peran sosial di masyarakat

Akibat berkurangnya fungsi pendengaran, penglihatan, gerak fisik dan sebagainya maka muncul gangguan fungsional atau bahkan kecacatan pada lanjut usia. Misalnya badannya menjadi bungkuk, pendengaran sangat berkurang, penglihatan kabur dan sebagainya sehingga sering menimbulkan keterasingan. Hal itu sebaiknya di cegah dengan selalu mengajak mereka melakukan aktivitas, selama yang bersangkutan masih sanggup, agar tidak merasa terasing atau diasingkan. Karena jika keterasingan terjadi akan semakin menolak untuk berkomunikasi dengan orang lain dan kadang-­kadang terus muncul perilaku regresi seperti mudah menangis, mengurung diri, mengumpulkan barang‑barang tak berguna serta merengek‑rengek dan menangis bila bertemu orang lain sehingga perilakunya seperti anak kecil.

2.2.8 Macam Pelayanan Untuk Para Lanjut Usia Yang Ada di Indonesia

Panti Werda (sasana tresna werda) dan Karang Werda (day care center) yang non panti mulai bermunculan di kota-kota besar di Indonesia. Pemberian paket-paket perkakas pertukangan pernah diberikan oleh Departemen Sosial, untuk menaikkan pendapatan dan keterampilan lanjut usia, peningkatan gizi lanjut usia. Pelayanan bantuan untuk mengurus tempat tinggal membersihkan, mencuci, memasak dan sebagainya (home-care nursing, home-help service) dapat dijalankan oleh LSM atau relawan-relawan disekeliling rumah lanjut usia tersebut. Hal ini dapat diorganisasikan lebih baik lagi. Pemberian potongan harga, pajak, ongkas transportasi dan sebagainya mulai banyak diberikan (Darmojo, 1997).

2.2.9 Panti Sosial Tresna Wredha

Panti Sosial Tresna Wredha adalah suatu tempat menampung orang-orang yang telah lanjut usia yang mempunyai masalah sosial maupun ekonomi.

Pemerintah mendirikan Panti Tresna Wredha karena adanya perbedaan nilai antara orang tua dan anak, ketidakmampuan di bidang ekonomi keluarga, serta keterbatasan waktu bagi keluarga untuk lebih memperhatikan mereka yang telah lanjut usia.

Disinilah pentingnya adanya Panti Werdha sebagai tempat untuk pemeliharaan dan perawatan bagi lanjut usia di samping sebagai long stay rehabilitation yang tetap memelihara kehidupan bermasyarakat. Disisi lain perlu dilakukan sosialisasi kepada masyarakat bahwa hidup dan kehidupan dalam lingkungan sosial Panti Werdha adalah lebih baik dari pada hidup sendirian dalam masyarakat sebagai seorang lanjut usia.


2.3 Uraian penyakit

2.3.1 DEFINISI

Asma bronchial adalah penyakit jalan nafas yang tidak dapat pulih, yang terjadi karena spasme bronkus disebabkan oleh beberapa penyebab, infeksi atau keletihan. (Smeltzer, 2001)

Asma bronchial adalah suatu penyakit saluran pernapasan bagian bawah yang disebabkan oleh alergi yang disertai gejela spesifik yaitu serangan dispneu ekspiratori. (St. Carolus, 2000)

Asma bronchial adalah keadaan klinik yang ditandai dengan masa penyempitan yang reversibel, dipisahkan oleh masa dimana ventilasi relatife mendekati normal. (Sylvia,1995).

Asma bronchial adalah suatu penyakit dengan ciri meningkatnya respon trakea dan bronkus terhadap berbagai rangsangan dengan manifestasi adanya penyempitan jalan nafas yang luas dan derajatnya dapat berubah-ubah baik secara spontan maupun hasil dari pengobatan ( The American Thoracic Society).

2.3.2 ETIOLOGI

Terbagi menjadi 2 faktor.

1. Faktor Ekstrinsik (alergi)

- Serbuk sari

- Bulu-bulu halus

- Asap rokok

- Polusi (debu)

- Makanan

2. Faktor Instrinsik

- Latihan fisik

- Kelelahan

TANDA DAN GEJALA

Gejala umumnya adalah adanya wheezing yang dapat didengar dengan atau tanpa stetoskop, batuk produktif, nafas pendek (dispneu). Pada serangan asma biasanya terjadi pada malam hari, dimulai dengan batuk yang produktif dan kemudian dada terasa tertekan, merasa sesak. Keadaan seperti ini dapat disertai dengan bising mengi/wheezing. Gejala dan serangan asma timbul jika seseorang atau pasien terpajan dengan faktor pencetus.

2.3.5 PERTIMBANGAN GERONTOLOGI

Penurunan secara bertahap dalam fungsi pernapasan yang dimiliki pada masa dewasa pertengahan dan mempengaruhi struktur juga fungsi pernapasan. Selama penuaan (40 tahun dan lebih tua), perubahan yang terjadi dalam alveoli mengurangi area permukaan yang tersedia untuk pertukaran oksigen dan karbondioksida. Pada usia sekitar 50 tahun, alveoli mulai kehilangan elastisitasnya. Penebalan kelenjar bronkial juga meningkat sejalan dengan pertambahan usia. Kapasitas vital paru mencapai tingkat maksimal pada usia 20-25 tahun dan menurun setelah sepanjang kehidupan. Penurunan kapasitas vital paru terjadi sejalan dengan kehilangan mobilitas dada, dengan demikian membatasi aliran tidal udara. Perubahan ini mengakibatkan penurunan usia kapasitas difusi oksigen sejalan dengan peningkatan usia menghasilkan oksigen erndah dalam sirkulasi arteri.

Meskipun terjadi perubahan ini tidak adanya penyakit pulmonal kronis, lansia tetap dapat melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari, tetapi mungkin mengalami pengurangan toleransi terhadap aktivitas yang berkepanjangan atau olahraga yang berlebihan dan mungkin membutuhkan istirahat setelah melakukan aktivitas yang lama dan berat.

2.3.6 KOMPLIKASI

1. Emfisema

Bila asma sering terjadi dan telah berlangsung lama, mengakibatkan perubahan bentuk thorak.

2. Atelaksitas

Bila secret banyak dan kental, salah satu bronkus dapat tersumbat.

3. Bronkotaksis

Bila atelaksitas berlangsung lama.

4. Bronkopneumoni

Bila ada infeksi.

5. Kegagalan nafas dan kegagalan jantung bila asma tidak ditolong dengan semestinya.

2.3.7 PEMERIKAAN DIAGNOSTIK

1. Rontgen dada

Dapat mengatakan hiperinflasi paru-paru

2. Tes fungsi paru

Dilakukan untuk menentukan penyebab dispneu, menentukan apakah fungsi abnormal adalah obstruksi atau retraksi untuk memperkirakan derajat disfungsi dan untuk mengawasi efek terapi.

3. Kapasitas inspirasi

Menurun pada emfisema

4. Bronkogram

Dapat menunjukan dilatasi silindsris bronkus pada inspirasi, kolaps bronchial pada ekspirasi kuat (emfisema), pembasaran duktus mukosa yang terlihat pada bronchitis.

5. Kimia darah

Anti aspirin dilakukan untuk meyakinkan defisiensi dan diagnosa emfisema.

6. Sputum

Kultur untuk menentukan adanya infeksi, mengidentifikasi patogen.

7. EKG, Latihan, Tes stress

Membantu dalam mengatasi derajat disfungsi paru, mengevaluasi keefektifan terapi bronkodilater, perencanaan, evaluasi dan progam latihan.

2.3.8 PENATALAKSANAAN MEDIK

1. Tujuan Terapi Asma

- Menyembuhkan dan mengendalikan asma.

- Mengupayakan fungsi paru senormal mungkin serta mempertahankannya.

- Mengupayakan aktivitas harian senormal mungkin.

- Mencegah obstruksi jalan nafas.

2. Tindakan Preventif

Menghilangkan Alergen penyebab, misalnya asap rokok, bulu kucing dan debu.

3. Pengobatan

- Bronkodilator :

Agonis B2 ( Terbulitan, Salbutamol dan Fenetrol : lama kerja 4-6 jam)

Agonis B2 Long Action memiliki lama kerja > 12 jam

4. Anti Inflamasi

- Kortikosteroid

- Natrium Kronolin

- Terapi O2

2.3.9 PROSES KEPERAWATAN

PENGKAJIAN

1. Identitas

Nama, pendidikan, alamat, pekerjaan dll.

2. Riwayat kesehatan

- Alasan datang ke panti.

- Riwayat medik yang lalu.

3. Pola persepsi riwayat kesehatan

- Merokok, minuman keras, obat-obatan, dsb.

- Alergi makanan.

4. Pola aktivitas latihan

5. Pola nutrisi

- Diet, gejala muntah-muntah, anoreksia.

- Nafsu makan, kemampuan menelan.

- Perubahan berat badan, penurunan massa otot.

6. Pola Eliminasi

- Kebiasaan BAB

- Kebiasaan BAK

7. Pola Istirahat Tidur

Gejala : kelelahan, keletihan, malaise.

Ketidakmampuan melaksanakan aktivitas sehari-hari karena sulit bernapas, ketidakmampuan untuk tidur, pola tidur dalam posisi duduk tinggi, dispneu pada saat istirahat/respon terhadap aktivitas dan latihan.

Tanda : keletihan, gelisah dan insomnia.

  1. Sirkulasi

Gejala : Pembengkakan pada ekstremitas bawah

Tanda : Peningkatan TD

Peningkatan frekuensi jantung, takikardi berat, distritmia, warna kulit, membran mukosa, sianosis, pucat dapat menandakan anemia.

  1. Intregitas Ego

Gejala : Peningkatan resiko, perubahan pola hidup.

Tanda : Ansietas, ketakutan, peka rangsang.

  1. Hygiene

Gejala : - Penurunan kemempuan.

Peningkatan kebutuhan bantuan dalam melakukan aktivitas sehari-hari.

Tanda : Kebersihan buruk dan bau badan.

  1. Pernapasan

Gejala :

- Napas pendek (timbulnya bunyi dispneu sebagai gejala menonjol pada empisema) khususnya pada saat bekerja, episode terulangnya sulit napas (asma), rasa dada tertekan, ketidakmampuan untuk bernapas.

- Batuk menetap dengan produksi sputum setiap hari (terutama saat bangun tidur) selama minimum 2 bulan berturut-turut, sedikitnya 2 tahun. Produksi sputum : hijau, putih, kuning.

- Episode batuk hilang timbul, biasanya tidak produktif pada saat tahap dini meskipun dapat menjadi produktif (emfisema)

- Faktor keluarga/keturunan

- Penggunaan O2 pada malam hari/terus-menerus

Biasanya cepat, dapat lembat, fase ekspirasi dapat memanjang dan mendengkur.

- Penggunaan alat bantu pernapasan, misalnya meninggikan bahu, retraksi posasupra clavikula, pernapasan cuping-hidung.

- Dada dapat terlihat hiperinflasi dengan meningkatkan diameter AP, gerakan diafragma minimal.

- Bunyi napas redup dengan ekspirasi mengi (Emfisema)

- Warna pucat dengan sianosis, bibir dan dasar kuku abu-abu keseluruhan, warna merah (bronkitis kronis), biru mengembung, pasien dengan emfisema sedang sering disebut pink puffer karena warna kulit normal. Meskipun pertukaran gas tidak normal dan frekuensi pernapasan cepat.

  1. Keamanan

Gejala : Riwayat reaksi alergi atau sensitif terhadap zat (faktor lingkungan, adanya infeksi)

DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Bersihan jalan napas inefektif berhubungan dengan hipersekresi mukus/peningkatan sputum.

2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan bronkospasme.

3. Perubahan pola tidur berhubungan dengan dispneu.

4. Resti infeksi berhubungan dengan penumpukan sekresi mucus di jalan nafas.

5. Resti difisit cairan berhubungan dengan peningkatan IWL.

INTERVENSI DAN RASIONAL

  1. Bersihan jalan napas inefektif berhubungan dengan hipersekresi mukus.

Kriteria hasil :

- Menunjukan adanya jalan napas pasien dengan bunyi napas bersih (vesikuler).

- Mukus dapat dikeluarkan.

Intervensi

Rasional

- Observasi frekuensi pernapasan

- Catat inspirasi dan ekspirasi

- Observasi karakteristik batuk, bantu tindakan memperbaiki keefektifan upaya batuk

- Dorong klien untuk bernapas dalam, batuk efektif postural drainase

- Berikan nebulizer dan espektoran

- Takipneu biasanya terjadi selama proses infeksi

- Kronis pernapasan adalah tergantung pada tahap kronis

- Pencetus tipe reaksi alergi pernapasan

- Batuk dapat menetap tapi tidak efektif pada posisi duduk

- Untuk membantu mengencerkan dahak

  1. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan bronkus spasme

Kriteria hasil : - Memperbaiki jalan napas dan bunyi nafas bersih

- Menunjukkan perilaku untuk memperbaiki bersihan jalan napas

Intervensi

Rasional

- Observasi frekuensi, kedalaman pernapasan, cara penggunaan otot aksesori, napas bibir

- Auskultasi bunyi napas area penurunan aliran udara/bunyi nafas tambahan

- Atur posisi klien, tinggikan kepala klien untuk napas dalam

- Berikan terapi O2

- Berikan nebulizer dan ekspektoran

- Berguna dalam evaluasi derajat distress pernapasan dan kronisnya suatu penyakit

- Bunyi napas redup aliran udara/area konsolidasi mengidentifikasi spasme bronkus

- Pengiriman O2 dapat diperbaiki dalam posisi duduk, latihan napas dalam untuk menurunkan kolaps jalan napas

- Dapat memperbaiki jalan nafas

- Sebagai bronkodilator dan pengencer dahak

  1. Perubahan pola tidur berhubungan dengan dispneu

Kriteria hasil : - Aktivitas istirahat dan tidur dapat terpenuhi.

Intervensi

Rasional

- Memberikan kesempatan untuk berinteraksi dan tidur sejenak

- Anjurkan teknik distraksi

- Anjurkan klien untuk mandi sebelum tidur

- Anjurkan klien dan kelurga untuk membersihkan tempat tidur

- Berikan makanan ringan di sore hari dan susu hangat

- Meningkatkan kondisi kesehatan tubuh

- Membantu klien dalam proses istirahat

- Tubuh yang bersih meningkatkan rasa nyaman

- Meningkatkan kenyamanan

- Meningkatkan relaksasi