Minggu, Februari 28, 2010

Askep Hipertensi


ASKEP HIPERTENSI PADA LANSIA





I. Perubahan Sistem Tubuh Pada Lansia
1. Perubahan fisik dan fungsi
a. Sel
  1. Jumlah sel otak menurun
  2. Jumlah sel menurun / sedikit
  3. Otak menjadi atrofi, beratnya berkurang 5 – 10%
  4. Proporsi protein di otak, otot, ginjal, darah, dan hati menurun.
b. Sistem Persarafan
  1. Respon dan waktu untuk bereaksi lambat, khususnya terhadap stress
  2. Penglihatan berkurang, pandengaran menghilang, saraf dan penciuman dan perasa mengecil, lebih sensitif terhadap perubahan suhu dan rendahnya ketahanan terhadap dingin
  3. Kurang sensitive terhadap sentuhan
  4. Defisit memori.
c. Sistem Pendengaran
  1. Gangguan pendengaran
  2. Fungsi pendengaran semakin menurun pada lanjut usia yang mengalami ketegangan atau stress
  3. Tinhus ( bising yang bersifat mendengung, bias bernada tinggi/rendah , bias terus menerus atau intermiten
  4. Vertigo ( perasaan tidak stabil yang terasa seperti berputar.
d. Sistem Penglihatan
  1. Kekeruhan pada lensa
  2. Penurunan/hilangnya daya akomaodasi seseorang sulit melihat dekat yang dipengaruhi berkurangnya elastisitas lensa
  3. Lapang pandang menurun, luas pandang berkuranng.
e. Sistem Kardiovaskuler
1. Katup jantung menebal dan menjadi kaku
2. Elastisitas dinding aorta menjadi menurun
3. Tekanan darah tinggi akibat resistensi pembuluh darah periper meningkat, sistol normal ( 95 mmHg ).

f. Sistem Pengaturan Suhu Tubuh
  1. Temperature tubuh menurun ( hipotermia ), secara fisiologis lebih kurang 35 derajat Celcius. Ini akibat metabolisme menurun
  2. Lanjut usia akan merasa kedinginan dan dapat pula menggigil, pucat dan gelisah
  3. Keterbatasan refleks menggigil dan tak dapat memproduksi panas yang banyak sehingga terjadi penurunan aktifitas otot.
g. Sistem Pernafasan
  1. Otot pernafasan mengalami kelemahan akibat atrofi, kehilangan kekuatan dan menjadi kaku
  2. Berkurangnya elastisitas bronkus
  3. Refleks dan kemampuan untuk batuk berkurang.
h. Sistem Pencernaan
  1. Hilangnya gigi penyebab utama periodontal disease yang terjadi setelah umur 30 tahun
  2. Rasa lapar menurun
  3. Peristaltic lemah dan biasanya timbul konstipasi
i. Sistem Reproduksi
1. Wanita
  1. Vagina mengalami kontraktur dan mengecil
  2. Ovari atrofi, uterus mengalami atrofi
  3. Atrofi payudara
2. Pria
  1. Testis masih memproduksi sperma, meskipun produksinya tidak sebanyak pada waktu sebelum usia lanjut.
j. Sistem Genitourinaria
  1. Ginjal,Mengecilnya nefron, akibat atrofi aliran darah ke ginjal menurun sampai 50% sehingga fungsi tubuh tubulus berkurang.
  2. Vesika Urinaria,Otot menjadi lemah, kapasitasnya menurun sampai 200 ml, atau menyebabkan frekuensi buang air seni meningkat.
  3. Pembesaran Prostat Kurang lebih 75% dialami oleh pria usia di atas 65 tahun .
  4. Atrofi Vulva,Vagina seseorang yang semakin menua, tetapi kebutuhan hubungan seksualnya masih ada.
k. Sistem Endokrin
Kelenjar endokrin adalah kelenjar buntu dalam tubuh manusia yang memproduksi hormon – hormone pertumbuhan berperan sangat penting dalam pertumbuhan, pematangan, pemeliharaan dan metabolisme organ tubuh.

l. Sistem Integumen
  1. Kulit mengerut atau keriput kelenjar lemak
  2. Permukaan kulit cenderung kusam, kasar dan bersisik
  3. Timbul brcak pigmentasi akibat proses melanogenesis yang tidak merata pada permukaan kulit sehingga tampak bintik-bintik atau noda coklat.
m. Sistem Muskuluskeletal
  1. Tulang kehilangan densitas ( cairan ) dan semakin rapuh
  2. Kekuatan dan stabilitas tulang menurun, terutama vertebra, pergelangan dan paha
  3. Gangguan gaya berjalantendon mengerut dan mengalami sclerosis


II. Pemeriksaan Fisik Jantung
Tujuan:
  1. Mengetahui ketidaknormalan denyut jantung.
  2. Mengetahui ukuran dan bentuk jantung secara kasar
  3. Mengetahui bunyi jantung normal atau abnormal.
  4. Mendeteksi gangguan kardiovaskuler
Persiapan alat:
• Stetoskop kecil
• Senter kecil

Prosedur pelaksanaan
A. Inspeksi dan palpasi
  1. Posisikan klien telentang dengan pemeriksa berada disebelah kanan klien.
  2. Lokasikan tanda pada dada, pertama dengan mempalpasi sudut louis atau sudut eternal yang teraba, seperti suatu tonjolan datar memanjang pada sternum kurang lebih 5 cm dibawah takik eternal.
  3. Gerakkan jari-jari sepanjang sudut pada masing- masing sisi sternum untuk meraba iga kedua yang berdekatan.
  4. Palpasi spasium interkortalis ke-2 kanan untuk menentukan area aorta dan spasium interkortalis ke-2 kiri untuk area pulmonal.
  5. Inspeksi dan kemudian palpasi area aorta dan area pulmonal untuk mengetahui ada/tidaknya pulsasi.
  6. Palpasi spasium interkostalis ke-5 kiri untuk mengetahui area trikuspidalis/ventrikular. Amati adanya pulsasi dari area triskuspidalis, pindahkan tangan secara lateral 5-7 cm kegaris midklavikula kiri untuk menemukan area apikal atau titik denyut maksimal (Point Of Maximal Implus, PMI).
  7. Inspeksi dan palpasi area apikal tersebut untuk mengetahui pulsasi
  8. untuk mengetahui pulsasi aorta, lakukan inspeksi dan palpasi pada area epigastrik tepat dibawah ujung strenum.

B. Perkusi
  1. Buka area dan beri tahu klien.
  2. Lakukan perkusi dari lateral kiri ke medikal untuk mengetahui batas kiri jantung.
  3. Lakukan perkusi dari sisi kanan ke kiri untuk mengetahui batas kanan jantung.
  4. Lakukan perkusi dari atas ke bawah untuk menentukan batas atas jantung.
  5. Suara redup menunjukkan jantung di bawah area yang di perkusi

C. Auskultasi
  1. Anjurkan klien bernafas secara normal dan kemudian tahan napas saat ekspirasi.
  2. Dengarkan suara jantung 1/S1 sambil palpasi nadi karotis, perhatikan adanya splitting S1 (bunyi S1 ganda yang terjadi dalam waktu yang sangat berhimpitan).
  3. Pada awal sistole, dengarkan secara saksama untuk mengetahui adanya bunyi tambahan atau murmur S1.
  4. Pada periode diastole, dengarkan suara saksama untuk mengetahui adanya bunyi tambahan atau murmur.
  5. Anjurkan klien bernapas normal, dengarkan S2 secara saksama untuk mengetahui adanya splitting S2 saat inspirasi.
  6. Periksa frekuensi jantung, yaitu kedua bunyi terdengar jelas seperti ”lub dup”, hitung setiap kombinasi S1 dan S2 sebagai satu denyut jantung. Hitung banyaknya denyut jantung selama 1 menit.
III. KONSEP PENYAKIT HIPERTENSI.
A. Pengertian
  • Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah secara terus menerus sehingga melebihi batas normal (Selvia A.Price & Lorraine M.Wilson. Buku Patofisiologi, Edisi 4).
  • Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah yang berkaitan dengan peningkatan mortalitas kardiovaskuler lebih dari 50 % (Patofisiologi, konsep klinis proses penyakit, edisi 4).
  • Hipertensi adalah masalah kesehatan, penting bagi dokter yang bekerja pada pelayanan kesehatan primer, karena angka prevalensi yang tinggi dan akibat jangka panjang yangditimbulkan mempunyai konsekuensi tertentu (Soeparman, Sarwono Waspanji, Ilmu penyakit Dalam Edisi 2).

B. Etiologi
Karena tekanan darah bergantung pada kecepatan denyut jantung volume sekuncup dan TPR, maka peningkatan salah satu dari ketiga variable yang tidak di kompensasi dapat menyebabkan hipertensi.
  1. Peningkatan kecepatan denyut jantung dapat terjadi akibat rangsangan abnormal saraf atau hormone pada nodus SA. Peningkatan kecepatan denyut jantung yang berlangsung kronik sering menyertai keadaan hipertiroidesme. Namun peningkatan tekanan denyut jantung biasanya dikonpensasi oleh penurunan volume sekuncup atau TPR, sehingga tidak menimbulkan hipertensi.
  2. Peningkatan volume sekuncupnya yang berlangsung lama dapat terjadi apabila terdapat peningkatan volume plasma yang berkepanjangan akibat gangguan penanganan garam dan air oleh ginjal atau konsumsi garam yang berlebihan. Peningkatan volume plasma akan menyebabkan peningkatan volume diastolic ahir sehingga terjadi peningkatan volume sekuncup dan tekanan darah. Peningkatan diastolic akhir disebut dengan peningkatan preload jantung dan dan peningkatan preload biasanya berkaitan dengan peningkatan sistolik.
  3. Peningkatan TPR yang berlangsung lama dapat terjadi pada peningkatan rangsangan saraf atau hormone pada arterior atau responsivitas yang berlebihan dari arterior terhadap rangsangan normal dari keduanya akan menyebabkan penyempitan pembuluh disebut afterload jantung, biasanya berkaitan dengan peningkatan tekanan diastolic.

C.Anatomi dan Fisiologi Jantung













D. Patoflow
E. Manifestasi Klinik
  1. Sakit kepala / nyeri kadang-kadang disertai mual dan muntah
  2. Marah
  3. Sukar tidur
  4. Mata berkunang-kunang
  5. Ayunan langkah yang tidak menetap karena kerusakan susunan saraf pusat.

F. Penatalaksanaan
A. Non Farmakologis
  1. Penurunan berat tampak mengurangi tekanan darah, mungkin dengan mengurangi beban kerja jantung sehingga kecepatan denyut jantung dan volume sekuncup juga berkurang.
  2. Olahraga, terutama bila disertai penurunan berat, menurunkan istirahat mungkin TPR olah raga meningkatkan kadar HDL, yang dapat mengurangi timbulnya hipertensi terkait aterosklerosis
  3. Teknik relaksasi dapat mengurangi denyut jantung dan TPR dengan cara menghambat respons stress saraf simpatis.
  4. Berhenti merokok penting untuk mengurangi efek jangka panjang hipertensi karena asap rokok diketahui menurunkan aliran darah ke berbagai organ dan dapat meningkatkan kerja jantung.
B. Farmakologi
  1. Diuretic bekerja melalui berbagai mekanisme untuk mengurangi curah jantung dengan menyebabkan ginjal meningkat ekskresi garam & airnya
  2. Antagonis (penyekat) reseptor-bata, terutama penyekat selektif bekerja pada reseptor batas di jantung untuk menurunkan kecepatan jantung dan curah jantung.
  3. Antagonis reseptor-alfa menghambat reseptor alfa diotot polos vaskuler secara normal berespon terhadap rangsangan simpatis dengan vasokontriksi hal ini akan menurunkan TPR.
  4. Dapat digunakan vasodilator arterior langsung untuk menurunkan TPR

IV. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

a. Pengkajian
Pengkajian pada hipertensi meliputi pengkajian tekanan darah secara rutin. Riwayat yang lengkap harus diperoleh untuk mengkaji gejala yang menunjukkan apakah system tubuh lainnya telah terpengaruh oleh hipertensi. Hal ini meliputi tanda seperti perdarahan hidung, nyeri, angina, napas pendek, perubahan tajam pandangan, vertigo, sakit kepala, atau nokturia.
b. Diagnosis Keperawatan
  1. Nyeri b.d peningkatan TD vaskuler serebral
  2. Perubahan nutrisi lebih dari kebutuhan tubuh b.d pola hidup manoton masukan yang berlebihan
  3. Intoleransi aktivitas b.d kelemahan umum atau ketidak seimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen.
c. Intervensi Keperawatan
1. Diagnosis : Nyeri b.d peningkatan TD vaskuler serebral
INTERVENSI
  1. Mempertahankan tirah baring selama pase akut
  2. Berikantindakan non farmakologis untuk menghilangkan sakit kepala, misalnya kompres dingin pada dahi, pijat punggung & leher, tenang, redupkan lampu kamar, teknik relaksasi (paduan imajinasi, distraksi) dan aktivitas waktu senggang
  3. Bantu pasien dalam ambulasi sesuai kebutuhan
  4. Kolaborasi, berikan analgesic, antiseptic, misalnya : lorazepam • Meminimalkan stimulasi atau meningkatkan relaksasi
RaSional
  1. Tindakan yang menurunkan tekanan vaskuler serebral & memperlembat atau memblok respon simpatis efektif dalm menghilangkan sakit kepala dan komplikasi
  2. Pusing &penglihatan kabur sering berhubungan dengan sakit kepala pasien juga dapat mengalami efisode hipotensi postural
  3. Menurunkan atau mengontrol nyeri dan menurunkan rangsangan system saraf simpatis

2. Diagnosis : Perubahan nutrisi lebih dari kebutuhan tubuh b.d pola hidup monoton, masukan yang berlebuhan
INTERVENSI
  1. Kaji pemahaman pesien tentang hubungnan langsung antara hipertensi dan kegemukan
  2. Bicarakan pentingnya menurunkan masukan kalori & batasi masukan lemak, garam & gula sesuai indikasi
  3. Kaji ulang masukan kalori harien dan pilihan diet
  4. Kolaborasi, rujuk ke ahli gizi sesuai indikasi.
RASIONAL
  1. kegemukan adalah resiko tambahan pada TD tinggi, karena disproporsi antara kapasitas aorta & peningkata curah jantung berkaitan dengan peningkatan masa tubuh.
  2. Kesalahan kebiasaan makan menunjang terjadinya aterosklerosis dan kegemukan yang merupakan predisposisi untuk hipertensi dan komplikasinya
  3. Membantu dalam menentukan kebutuhan individu untuk menyesuaikan atau penyuluhan
  4. Memberikan konseling dan bantuan dengan memenuhi kebutuhan diet

3. Diagnosis : Intolenransi aktivitas b.d kelemahan umum atau ketidak seimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen
INTERVENSI
  1. Kaji respon pasien terhadap aktivitas, perhatikan frekuensi nadi lebih dari 20 kali / menit di atas frekuensi istirahat. Peningkatan TD yang nyata selama / sesudah aktivitas (tekanan systole meningkat 40mmHg / tekanan diastole meningkat 20 mmHg) displasia atau nyeri dada : keletihan & kelemahan yang berlebihan : diasforesis, pusing atau pingsan
  2. Instruksi pasien tentang teknik penghemat energi, misalnya : menggunakan kursi saat mandi, duduk saat nyisir rambut atau menggigit gigi, melakukan aktivitas dengan perlahan
  3. Berikan dorongan untuk melakukan aktivitas atau perawatan diri jika di toleransi berikan bantuan sesuai kebutuhaN
    RASIONAL
  1. Menyebutkan parameter membantu dalam mengkaji respon fisiologi terhadap stress, aktivitas dan bila ada merupakan indicator dari kelebihan kerja yang berkaitan dengan tingkat aktivitas.
  2. Teknik menghemat energi, mengurangi penggunaan energi, juga membantu keseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen
  3. Memberikan bantuan hanya sebatas kebutuhan akan mendorong kemandirian dalam melakukan aktivitas


D. Evaluasi Keperawatan
1. Mepertahankan perfusi jaringan yang adekuat
2. Mematuhi program asuhan dini
3. Bebas dari komplikasi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar